Sepi menjerat betah

Dulu, tak ada ruang yang tak kau singgahi begitu rapi.

Menyecap setiap rasa yang datang menyapa berkali-kali.

Kau pun menjejakan apapun yang bisa kau tinggali.

Dan ada yang lahir dari setiap jejak kau ciptai,

Punggung kokoh yang selalu siap menenangkan ketika duka datang silih berganti.

Kecup yang menidurkan luka yang menganga perih.

Lengan yang merengkuh pasti, meredakan amarah untuk pergi.

Serta tatap yang menghadiahi teduh penuh kasih.

Begitu pula dengan rindu yang hadir kala temu tak menyudahi.

Tapi itu dulu, sebelum sepi datang menjerat betah.

Sebelum kehilangan menutup hati yang sering meletup-meletup bahagia.

Sebab apapun yang terjadi di sekujur semesta ini sejatinya tak ada yang benar-benar pasti.

Jingga kala senja

Deru angin menuntunku pada senja yang sebagiannya telah pergi,

Bias-biasnya mengecup mesra semesta penuh kasih,

Menyalurkan hangat disetiap hati yang merengkuhnya hati-hati.

Membekukan setiap mata yang menatapnya penuh arti.

Seolah tahu bahwa disana ada yang menerka-nerka risaunya tanpa pasti,

Seolah tahu bahwa disana ada yang membendung segalanya tanpa henti,

Dan senja, pamitmu pada semesta berhasil melahirkan jingga yang memecah resahku berulang kali.

Membiarkannya ikut tenggelam, katamu; agar tak ada sedih yang datang kembali.

Pangeran kecil

Langkah-langkah kecilmu menjadi arah tempatku kembali.

Mengikuti dalam diam dengan senyum yang tersembunyi.

Meski yang kutemukan hanya punggung yang kian menjauh tanpa henti,

Meski yang kudapati hanya jarak yang kian terpatri.

Tanpa cakap, tanpa tanya seolah hening menikmati setiap detik yang terganti.

Dan aku larut didalamnya dengan debar yang meletup-letup dalam hati,

Walau takkan pernah ada langkah beriringan.

Apalagi dengan dekap yang dinantikan.

Tak apa,

Aku menikmati setiap waktu yang membungkus hari-hari lalu,

Pun dengan punggungmu yang membelakangiku.

Terima kasih pernah menghadirkan debar yang kini masih tersisa dalam hati dan tersita dalam pikirku.

Hujan; tentang diri sendiri

Rinai hujan selalu membawa kepulangan pada diri sendiri,

Pada dingin yang memeluk erat tulang-tulangmu.

Pada gigil yang memaksa merengkuh tubuhmu.

Seolah mereka akan tahu akan ada kepulangan yang menanti.

Dan akan ada sedih juga amarah yang datang menumpuk untuk siap disusun rapi kembali,

Hingga, ketegaranmu lenyap diterpa hujan yang tak henti.

Tubuhmu lelah dicambukkan cemas yang tak ingin pergi,

Sementara kepalamu sedang berusaha berperang melawan dirinya sendiri.

Menangislah, biarkan hujan memelukmu lebih erat lagi.

Perkenalkan mereka pada amarah yang kau sembunyikan begitu rapi.

Perkenalkan mereka pada sedih yang kau timbun dalam hati.

Penghujung malam

​Malam datang merangkul sedih yang tak kunjung pergi.

Merengkuh punggung yang tak setegap saat pagi menjelang.

Ada resah yang datang menghampiri.

Menghantui ruang kosong pada hati yang tak ditinggali.

Menyisipkan siksa yang menguras tangis.

Menghadirkan amuk yang menghantam sepi.

Juga gurat lelah yang mengiris hati.

Apakah benar kelak bahagia akan datang mendampingi?

Atau hidup memang hanya soal “mengerti”?

Perempuan sore

Pada sore yang sedang ditatanya untuk melepas senja,

Ada riuh dalam hati yang meronta ingin pergi.

Entah luka-luka lama ataupun takut yang tiada habisnya,

Entah gelisah yang selama ini terpendam ataupun jiwa yang setengahnya telah mati.

Entahlah, mungkin juga apapun yang telah lama terpenjara didalam sana.

Berharap segalanya menyublim bersama sepotong senja yang telah pergi,

Yang ia inginkan agar hatinya dihidupkan kembali,

Tanpa tahu bibir laut merekam segalanya,

Tanpa tahu semesta menampung segala pintanya.

Perkara langit

Perkara langit,

padanya takkan ada habis cerita

yang meluncur dari bibir manusia

yang tak pernah kehilangan asanya.

sepertiku; doa-doa mulukku meracau

meramaikan langit pun semesta.

Takkan ada henti sebelum asa berlari pergi.