Kotamu

Kepada langit yang tengah menyiapkan sisi gelapnya

Dan kebisingan kota yang tak pernah lelah bersua

Izinkan aku menyusup diantara orang-orang yang begitu menikmati malam dan kotamu

Izinkan aku merasakan hembusan angin menerpa kala sedang mengamati kelap-kelip cahaya dari tempatku berdiri

Izinkan aku sekali saja menjadi bahagia menyusuri kotamu tanpa sepi yang terus membuntuti

Iklan

Sebuah refleksi tentang diri sendiri

Laut menjadi satu-satunya tempat untuk menjelajahi setiap risau dihatinya

Jelas terlihat kali ini tak ada senyum yang disuguhkan pada semesta

Ya, hatinya sedang mendung, terlalu banyak tanya menari-nari dikepalanya tanpa jeda

Apa aku bahagia?

Bibirnya kelu, satu tanya yang tak pernah ia tahu harus menjawabnya bagaimana

Hari-harinya berlalu begitu berat

Padahal senyum selalu menghiasi wajahnya, tanpa tahu yang ia tunjukkan pada dunia sejatinya bukanlah ia

Kosong, hampa, resah bahkan risau didalam dadanya tak ingin pergi

Mungkin bukan lagi tak ingin pergi, tapi ia yang menahannya untuk tidak pergi

Ia terlalu takut cara pandang dunia padanya

Ia kembali menjadi pengecut bahkan kepada dirinya sendiri

29 september

Ini masih tentang kamu

Menarik ulur hati yang sedang berusaha baik-baik saja

Menyapa ditengah ruang kosong tak berpenghuni

Nyatanya kau tak benar-benar nyata dan aku tahu itu

tapi ku pungkiri

Karenaya aku bahagia dan terluka diwaktu yang sama

Semakin kepalaku berpikir keras tentangmu

Kau semakin nyata di ingatanku

*tentang mimpi di tanggal 29 september 2017

Perempuan berteman sepi

Tak ada yang begitu setia menemaniku menghabiskan hari selain sepi

Ia yang tanpa kata, padanya aku menjadi sejujur-jujurnya aku

Kala aku tengah membenci hariku

Kala aku sedang mencemaskan masa depanku

Kala aku tengah berbincang pada semesta agar mengabulkan harapku

Kala aku yang sedang mencoba begitu keras agar tetap menjadi waras ditengah peliknya hidup

Ya, hanya sepi

Ia menjadi teman tanpa mengharap belas kasih

Ku namai dia senja

Tulisan ini ditulis sambil mendengarkan lagu Begitulah – Mytha 🎶

Dia senja

Padanya melahirkan candu pada setiap pasang mata yang berada disekitarnya

Dia senja

Padanya banyak cerita yang kutitipkan untuk dibawanya pulang

Ceritaku tentangmu, tentang aku dan kamu yang mungkin tak kan pernah menjadi kita

Dan dia senja

Untuk kesekian kalinya menyaksikan debar yang kurasakan sendirian

Dimana aku dan rasaku begitu bersikeras untuk mencari tahu adakah rasa yang tericpta karenaku

Hingga akhirnya

Dia senja

Memelukku erat, memintaku agar berhenti keras kepala dan menyerah untuknya

Katanya semesta tak menyukai aku dan pinta yang ku kirimkan padanya

Lalu, aku bisa apa selain mengikuti cara semesta?

Sepi menjerat betah

Dulu, tak ada ruang yang tak kau singgahi begitu rapi
Menyecap setiap rasa yang datang menyapa berkali-kali
Kau pun menjejakan apapun yang bisa kau tinggali

Dan ada yang lahir dari setiap jejak kau ciptai
Punggung kokoh yang selalu siap menenangkan ketika duka datang silih berganti
Kecup yang menidurkan luka yang menganga perih
Lengan yang merengkuh pasti meredakan amarah untuk pergi

Serta tatap yang menghadiahi teduh penuh kasih
Begitu pula dengan rindu yang hadir kala temu tak menyudahi

Tapi itu dulu, sebelum sepi datang menjerat betah
Sebelum kehilangan menutup hati yang sering meletup-meletup bahagia
Sebab apapun yang terjadi di sekujur semesta ini sejatinya tak ada yang benar-benar pasti

Jingga kala senja

Deru angin menuntunku pada senja yang sebagiannya telah pergi.
Bias-biasnya mengecup mesra semesta penuh kasih.
Menyalurkan hangat disetiap hati yang merengkuhnya hati-hati.
Membekukan setiap mata yang menatapnya penuh arti.

Seolah tahu bahwa disana ada yang menerka-nerka risaunya tanpa pasti,
Seolah tahu bahwa disana ada yang membendung segalanya tanpa henti.

Dan senja, pamitmu pada semesta berhasil melahirkan jingga yang memecah resahku berulang kali.
Membiarkannya ikut tenggelam, katamu; agar tak ada sedih yang datang kembali.

Pangeran kecil

Langkah-langkah kecilmu menjadi arah tempatku kembali.

Mengikuti dalam diam dengan senyum yang tersembunyi.

Meski yang kutemukan hanya punggung yang kian menjauh tanpa henti,

Meski yang kudapati hanya jarak yang kian terpatri.

Tanpa cakap, tanpa tanya seolah hening menikmati setiap detik yang terganti.

Dan aku larut didalamnya dengan debar yang meletup-letup dalam hati,

Walau takkan pernah ada langkah beriringan.

Apalagi dekap yang dinantikan.

Tak apa..

Aku menikmati setiap waktu yang membungkus hari-hari lalu,

Pun dengan punggungmu yang membelakangiku.

Terima kasih pernah menghadirkan debar.

Hujan; tentang diri sendiri

Rinai hujan selalu membawa kepulangan pada diri sendiri,

Pada dingin yang memeluk erat tulang-tulangmu.

Pada gigil yang memaksa merengkuh tubuhmu.

Seolah mereka tahu akan ada kepulangan yang menanti.

Dan akan ada sedih juga amarah yang datang menumpuk untuk siap disusun rapi kembali,

Hingga, ketegaranmu lenyap diterpa hujan yang tak henti.

Tubuhmu lelah dicambukkan cemas yang tak ingin pergi,

Sementara kepalamu sedang berusaha berperang melawan dirinya sendiri.

Menangislah, biarkan hujan memelukmu lebih erat lagi.

Perkenalkan mereka pada amarah yang kau sembunyikan begitu rapi.

Perkenalkan mereka pada sedih yang kau timbun dalam hati.